Indonesia tengah mengusung ambisi besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% sebagai pijakan menuju visi Indonesia Emas 2045. Target ini mencerminkan tekad kuat untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Selain itu, untuk membangun ekonomi nasional yang maju serta berdaya saing global.
Namun, di tengah dinamika global yang semakin kompleks, pendekatan pembangunan konvensional menjadi semakin tidak relevan.
Dalam konteks inilah, integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) muncul sebagai arah strategis baru. Bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi tidak harus bertentangan dengan keberlanjutan. Sebaliknya, ESG justru dapat menjadi fondasi utama untuk menciptakan ekonomi Indonesia yang resilien. Khususnya terhadap guncangan global, inklusif secara sosial, dan kompetitif dalam jangka panjang.
Baca juga: Trump’s Tariffs: Kembalinya Proteksionisme Global dan Dampaknya bagi Rantai Pasok Dunia
Peluang & Tantangan Implementasi ESG dalam Mendorong Pertumbuhan 8%
Tren ESG saat ini telah bertransformasi dari sekadar wacana global menjadi keharusan strategis bagi negara dan pelaku usaha. Penerapan ESG terbukti mendorong efisiensi operasional, memperkuat daya saing ekspor, serta membuka akses terhadap pembiayaan berkelanjutan seperti green bonds dan SDG bonds.
Bagi Indonesia, hal ini berarti peluang untuk menarik investasi berkualitas sekaligus memperkuat posisi dalam rantai nilai global yang semakin menuntut standar keberlanjutan.
Namun demikian, tantangan implementasi ESG masih signifikan. Biaya adopsi yang relatif tinggi, kesenjangan literasi ESG, serta ketimpangan kesiapan antar sektor dan wilayah menjadi hambatan yang nyata.
Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, ESG berisiko dipersepsikan sebagai beban tambahan, bukan sebagai pendorong pertumbuhan. Di sisi lain, peluang terbuka lebar jika terdapat sinergi lintas sektor, antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan institusi pendidikan, untuk mendorong transformasi struktural menuju ekonomi hijau.
Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis, antara mengejar pertumbuhan jangka pendek, atau membangun fondasi ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. ESG menawarkan jalan tengah yang harmonis dengan menggabungkan ambisi pertumbuhan tinggi dengan prinsip keberlanjutan jangka panjang.
Baca juga: EUDR dan Tekanan Baru terhadap Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia
ESG dan Masa Depan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Edisi Sustainability Insight Report (SIR) ke 2 mengulas secara mendalam hubungan antara ESG dan ambisi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Report tersebut merekomendasikan tujuh strategi kunci, mulai dari reformasi regulasi berbasis kinerja, perluasan infrastruktur hijau dan digital, hingga reformasi sistem vokasi untuk menyiapkan green jobs. ESG diposisikan bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai katalis strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan yang adil, hijau, dan berkelanjutan.
Untuk memahami lebih lanjut bagaimana ESG dapat diselaraskan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional, akses Sustainability Insight Report (SIR) edisi ke dua dengan judul:
“Harmoni ESG dan Target Pertumbuhan Ekonomi”
Unduh report lengkapnya secara GRATIS di report.olahkarsa.com