Green Economic Outlook (GEO) 2026 adalah forum diskusi tingkat tinggi mengenai ekonomi hijau, keberlanjutan, ESG, dan tata kelola. Acara ini mempertemukan praktisi industri, regulator, dan pakar internasional untuk bertukar perspektif dan pengalaman terkini.
GEO 2026 diselenggarakan oleh Indonesia Corporate Secretary Association (ICSA) bersama Olahkarsa. Diskusi berfokus pada transisi menuju ekonomi rendah karbon serta implikasinya terhadap daya saing nasional.
Acara Green Economic Outlook 2026 berlangsung di JS Luwansa, Jakarta, pada 11 Desember 2025. Kegiatan utama meliputi sesi keynote dan tiga thematic session yang membahas ekonomi, ESG, dan GCG.

Tema Utama: Strengthening Economic Resilience through ESG Integration
Tema utama acara Green Economic Outlook 2026 adalah Strengthening Economic Resilience through ESG Integration. Dengan adanya tema ini menekankan pentingnya integrasi ESG untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Baca juga: Second NDC Indonesia: Pembaruan Komitmen Iklim Menuju Pembangunan Rendah Karbon
Perusahaan didorong melihat faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola sebagai bagian inti strategi bisnis. Pendekatannya membantu mengurangi risiko, menarik investasi berkelanjutan, dan membangun kepercayaan pemangku kepentingan.
Latar Belakang dan Urgensi Green Economic Outlook 2026
Perkembangan ekonomi global menunjukkan keberlanjutan sebagai kebutuhan strategis bagi dunia usaha. Isu perubahan iklim, transisi energi, dan ketimpangan sosial menuntut transformasi menuju paradigma green economy.
Pemerintah Indonesia memperkuat komitmen Net Zero, implementasi ESG, dan Good Corporate Governance dalam kebijakan ekonomi. Dalam konteks ini, peran Corporate Secretary menjadi krusial sebagai garda depan integrasi kepatuhan dan komunikasi strategis.
Green Economic Outlook 2026 hadir untuk menjembatani diskusi lintas sektor mengenai arah ekonomi hijau Indonesia. Forum tersebut membantu perusahaan membaca tren regulasi, peluang investasi berkelanjutan, dan praktik terbaik implementasi ESG.
Susunan Sesi dan Narasumber Green Economic Outlook 2026
1. Keynote Session
Keynote session menghadirkan perwakilan penting dari pemerintah, regulator, dan pelaku usaha nasional. Mereka membahas ketahanan ekonomi nasional dari perspektif fiskal, moneter, dan dinamika pasar keuangan. Pembahasannya memberi gambaran makro mengenai kesiapan Indonesia menghadapi tantangan transisi ekonomi hijau.
- R. Joko Siswanto – Director of Sustainable Finance OJK
- Teuku Fahmi Ariandar – Vice Director of Listed Company Regulation and Services of IDX
2. Thematic Session: Ekonomi, ESG, dan GCG
Tiga thematic session menggali isu spesifik terkait ekonomi hijau, integrasi ESG, dan penguatan tata kelola perusahaan.
1. Sesi ekonomi membahas peluang pertumbuhan melalui kebijakan fiskal hijau, inovasi pembiayaan, dan dinamika pasar rendah karbon dengan topik “Strengthening National Economic Resilience through Fiscal, Monetary and Market Perspectives.”
- Ribka Hanum Haryono – Senior Analyst, Green Economics-Finance Group of Bank Indonesia
- Luthfi Ridho – Economist of National Economic Council
- Josua Pardede – Chief Economist of PT Bank Permata Tbk
- Moderator : Theodorus Indra – Deputy Chairman for International Relations of ICSA; Corporate Secretary, Legal & Litigation Division Head PT Federal International Finance Tbk
2. Sesi ESG menonjolkan strategi integrasi aspek lingkungan, sosial, dan governance dalam model bisnis lintas industri dengan topik “Advancing Sustainability Integration in Business to Strengthen Market Competitiveness.”
- Anton Hendranata – Chief Economist of PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
- Triana Krisandini – SVP Sustainability of PT TBS Energi Utama Tbk
- Siti Nurmaya Rahmayani – Group Head Corporate Strategy and Sustainability of PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
- Luluk Widyawati – Chairwoman of the Sustainability Working Team of the Indonesian Institute of Accountants (IAI)
- Moderator : Unggul Yoga Ananta, Co-founder & CEO of Olahkarsa
3. Sesi GCG menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, serta pengawasan dewan dalam menjaga keberlanjutan jangka panjang dengan topik “Governance Excellence as the Foundation for Sustainable Corporate Performance.”
- Katharine Grace – Chairwoman of Indonesia Corporate Secretary Association, Chief of Corporate Affairs of Sustainability of PT Bank Permata Tbk
- Nyoman Gde Satrya Wibawa – Asia Pacific Regional Coordination Associate of United Nations Environment Programme Finance Initiative (UNEP FI)
- Eka Suhendra – Director of Risk Management of PT Pertamina International Shipping (PIS)
- Kamia Handayani – Executive Vice President (EVP) Energy Transition and Sustainability of PLN Persero
- Moderator : Pingkan Ratna Melati – Committee Member of the Professional Standardization of ICSA; SVP Legal Counsel and Corporate Secretary PT TBS Energi Utama Tbk
3. Special Session
Sesi ini berfokus bahwa ESG dapat mendorong perubahan perilaku di level individu dan organisasi dalam memperkuat ketahanan ekonomi melalui bisnis yang lebih bertanggung jawab, beretika, dan dipercaya. Topik yang akan disampaikan oleh Nadia Habibie sebagai Executive Secretary of The Habibie Center mengenai “Humanizing ESG: Inspiring Behavioral Change to Strengthen Economic Resilience.”
Manfaat Mengikuti Green Economic Outlook 2026 bagi Perusahaan
1. Memahami Tren Regulasi dan Kebijakan
Peserta mendapatkan pemahaman langsung mengenai arah kebijakan fiskal, moneter, dan regulasi pasar terkait ekonomi hijau. Informasi ini membantu perusahaan menyiapkan kepatuhan lebih awal dan memitigasi risiko perubahan regulasi. Pelaku usaha dapat menyusun roadmap transisi yang selaras dengan target Net Zero dan komitmen nasional.
2. Menguatkan Strategi ESG dan Investasi Berkelanjutan
Berbagai studi kasus dan praktik terbaik ESG dipaparkan oleh perusahaan terkemuka lintas sektor. Peserta belajar mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan governance ke dalam strategi bisnis sehari-hari.
Baca juga: Sustainable Livelihood Framework dalam Inovasi Sosial
Diskusi juga menyoroti peluang investasi berkelanjutan dan akses pendanaan hijau untuk proyek strategis perusahaan. Wawasan tersebut memperkuat kapasitas manajemen risiko iklim, sosial, dan reputasi perusahaan.
3. Memperluas Jejaring Profesional dan Kolaborasi
Green Economic Outlook 2026 mempertemukan Corporate Secretary, eksekutif, regulator, dan praktisi keberlanjutan dalam satu forum. Pertemuan ini membuka peluang kemitraan strategis, kolaborasi program, dan percakapan lanjutan pasca acara. Jejaring yang kuat mendukung percepatan implementasi agenda ESG dan ekonomi hijau di berbagai sektor.
Mengapa Corporate Secretary Perlu Hadir di Green Economic Outlook 2026
Corporate Secretary memegang peran sentral dalam tata kelola, komunikasi strategis, dan pelaporan keberlanjutan perusahaan. Mereka menghubungkan dewan komisaris, manajemen, investor, dan pemangku kepentingan eksternal lainnya.
Melalui forum ini, Corporate Secretary memperoleh referensi praktik terbaik governance, disclosure, dan engagement terkait agenda ESG. Pengetahuan tersebut membantu penyusunan kebijakan internal, pedoman pelaporan, serta strategi komunikasi yang konsisten dan kredibel. Keterlibatan aktif Corporate Secretary mempercepat integrasi ESG dalam setiap keputusan bisnis dan proses tata kelola.
Menyongsong Ekonomi Hijau dengan Perspektif Green Economic Outlook 2026
Transformasi menuju ekonomi hijau membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, regulator, pelaku usaha, dan masyarakat. Green Economic Outlook 2026 menawarkan panduan strategis untuk memahami arah kebijakan, peluang investasi, dan tuntutan pasar berkelanjutan. Dengan mengikuti forum ini, perusahaan dapat memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus meningkatkan kinerja keberlanjutan jangka panjang.
Corporate Secretary dan manajemen perlu memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat integrasi ESG di seluruh lini bisnis. Segera siapkan partisipasi perusahaan dalam Green Economic Outlook 2026 dan jadilah bagian dari transformasi ekonomi hijau Indonesia.
Informasi lebih lanjut kunjungi: greeneconomic.olahkarsa.com