Banyak sustainability report yang belum menjalakan fungsi strategis, karena kesalahan umum yang terjadi sejak awal penyusunan sustainability report.
Apalagi, sustainability report kini menjadi dokumen penting bagi banyak organisasi. Bukan hanya sebagai bentuk kepatuhan regulasi, tetapi juga sebagai cerminan kualitas tata kelola, manajemen risiko, dan kesiapan bisnis menghadapi tuntutan pasar global.
Selain itu, banyak perusahaan menyusun sustainability report secara rutin setiap tahun. Namun, laporan tersebut sering kali hanya berfungsi sebagai dokumen administratif, bukan alat pengambilan keputusan.
Hal ini terjadi karena sustainability reporting masih diperlakukan sebagai proses akhir, bukan bagian dari sistem manajemen yang terintegrasi dengan operasi dan strategi bisnis.
Baca juga: Kenapa Perusahaan Memiliki Kewajiban Membuat Sustainability Report?
Kesalahan Umum dalam Pembuatan Sustainability Report
1. Penentuan Materialitas yang Terlalu Subjektif
Salah satu kesalahan paling mendasar adalah penentuan topik material yang terlalu bergantung pada asumsi internal. Proses materialitas sering kali dilakukan secara terbatas, minim data pendukung, dan tidak melibatkan stakeholder secara memadai.
Akibatnya, topik yang diangkat dalam laporan tidak benar-benar mencerminkan dampak, risiko, dan peluang yang paling relevan bagi bisnis maupun pemangku kepentingan. Padahal, materialitas seharusnya menjadi fondasi utama sustainability report dan arah strategi keberlanjutan perusahaan.
2. Data ESG Tersebar dan Dikelola Secara Manual
Banyak organisasi masih mengelola data ESG melalui spreadsheet terpisah di berbagai unit kerja. Data energi, emisi, SDM, hingga rantai pasok dikumpulkan secara manual tanpa standar yang konsisten.
Bahkan, sekitar 55% perusahaan masih mengandalkan spreadsheet manual untuk pengelolaan data ESG, yang meningkatkan risiko kesalahan, inkonsistensi, dan keterlambatan pelaporan. Kondisi ini membuat proses penyusunan sustainability report menjadi repetitif, memakan waktu, dan sulit dikembangkan secara strategis.
Baca juga: Rekomendasi Software ESG untuk Sustainability Report
3. Sulit Dilakukan Verifikasi dan Audit Trail
Kesalahan lain yang sering muncul adalah ketiadaan jejak data (audit trail) yang jelas. Ketika data ESG tidak terdokumentasi dengan baik, proses verifikasi, baik internal maupun eksternal, menjadi sangat sulit.
Hal ini berisiko menurunkan kredibilitas laporan, terutama ketika perusahaan menghadapi tuntutan transparansi yang lebih tinggi dari investor, regulator, dan mitra global.
4. Sustainability Report Berdiri Sendiri dari Proses Bisnis
Banyak sustainability report tidak terhubung dengan proses pengambilan keputusan perusahaan. Laporan disusun sebagai output tahunan, tanpa keterkaitan langsung dengan perencanaan, evaluasi kinerja, atau pengelolaan risiko. Akibatnya, sustainability report tidak dimanfaatkan sebagai alat strategis, meskipun berisi banyak data dan narasi.
ESGTrack.AI sebagai Solusi atas Common Mistakes Sustainability Report
Pendekatan berbasis teknologi dan data menjadi semakin relevan untuk menjawab kompleksitas pelaporan ESG. ESGTrack.AI adalah software ESG digital platform yang dirancang untuk membantu organisasi mengatasi kesalahan umum dalam sustainability reporting melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan terukur.
Bahkan, menurut Fintech Global, sistem ESG yang terintegrasi dengan AI secara signifikan meningkatkan efisiensi pelaporan hingga 50%.

1. Materialitas Berbasis Data dan Konteks
Dengan AI-driven materiality mapping, ESGTrack.AI membantu organisasi mengidentifikasi topik material berdasarkan karakteristik industri, dampak operasional, dan konteks bisnis, bukan sekadar asumsi internal. Pendekatan ini mendorong proses materialitas yang lebih objektif, kolaboratif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Integrasi dan Pengolahan Data ESG
ESGTrack.AI mengubah data operasional sehari-hari, seperti konsumsi energi, data SDM, dan informasi pemasok, menjadi metrik ESG yang terstruktur dan siap dilaporkan.
Proses pengerjaannya pun di dukung dengan lembar kerja dan data yang terpusat dan terstandar, sehingga organisasi dapat mengurangi ketergantungan pada proses manual dan meningkatkan konsistensi pelaporan dari tahun ke tahun.
3. Otomatisasi Sustainability Report
Melalui fitur auto-generated ESG report, ESGTrack.AI memungkinkan perusahaan menghasilkan laporan ESG dalam format yang rapi, selaras dengan kerangka pelaporan yang relevan, dan siap digunakan tanpa proses formatting yang berulang. Otomatisasi ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas dan keterlacakan data dalam sustainability report.
Baca juga: Level Up Your ESG Reporting with ESGTrack.AI
Buat Sustainability Report yang Lebih Kredibel dan Strategis
Sustainability report yang kredibel tidak dibangun di tahap akhir penyusunan dokumen. Namun, lahir dari sistem pengelolaan data ESG yang rapi, materialitas yang tepat, dan proses yang terintegrasi dengan bisnis.
Dengan pendekatan yang tepat, sustainability report dapat bertransformasi dari kewajiban tahunan menjadi alat strategis untuk mendukung tata kelola, pengelolaan risiko, dan pengambilan keputusan jangka panjang.
Mulai dari membenahi prosesnya pembuatan sustainability report dengan ESGTrack.AI. Pelajari bagaimana ESGTrack.AI membantu organisasi menyusun sustainability report yang lebih terstruktur, konsisten, dan siap dipertanggungjawabkan.
Kamu bisa melakukan request demo melalui situs ESGTrack.AI secara GRATIS di www.esgtrack.ai atau hubungi Minno untuk informasi lebih lanjut: 08112130130
Referensi:
- Scope. (2025). 5 Common Pitfalls of Sustainability Reporting.
- Fintech Gobal. (2024). How AI slashes ESRS compliance time by 50% for sustainable reporting.
- Coolset. (2024). Why finance teams shouldn’t try to solve sustainability with spreadsheets.