Pada 2 April 2025, Donald Trump mengumumkan “Reciprocal Tariffs” yang mengubah arah perdagangan global. Kebijakan tarif Trump ini menetapkan tarif universal 10% untuk semua impor ke Amerika Serikat.
Sebanyak 57 negara terkena tarif tambahan, termasuk Indonesia 32% dan Vietnam 46%. Tiongkok menerima tarif tertinggi hingga 125%, memicu gelombang proteksionisme baru.
Perusahaan multinasional merespons dengan merombak peta produksi, pemasok, dan jalur distribusi. Bahkan, biaya logistik dan komponen naik, sehingga efisiensi Just-in-Time bergeser ke Just-in-Case.
Diversifikasi pun meluas dari China+1 menuju China+Many, regionalisasi, nearshoring, dan friend-shoring. Narasi “supply chain sovereignty” menguat, menuntut ketahanan, kendali, keterlacakan, dan akuntabilitas.
Dalam konteks ini, Asia Tenggara menjadi sorotan sebagai blok manufaktur dan logistik yang saling melengkapi. Indonesia berpeluang besar berkat lokasi strategis, bonus demografi, dan pasar domestik 270+ juta.
Peluang juga didorong reformasi investasi, KEK, dan digitalisasi logistik lewat National Logistics Ecosystem. Namun, hambatan masih terasa, seperti birokrasi, konektivitas pelabuhan, dan konsistensi regulasi lintas sektor.
Baca juga: Harmoni ESG dan Pertumbuhan Ekonomi 8% di Indonesia
Lebih penting lagi, ESG menjadi syarat kepercayaan, bukan sekadar pelengkap rantai pasok. Buyer global menilai terkait penerapan emisi, hak pekerja, hingga tata kelola. Disisi lain, Indonesia sudah bergerak lewat Taksonomi Hijau, bursa karbon, transisi energi, dan kawasan industri hijau. Namun, tantangan ESG tetap terasa, pada sektor energi, tekstil, sawit, nikel, terutama soal traceability dan standar lingkungan.
Melalui Sustainability Insight Report (SIR), merekomendasikan harmonisasi regulasi ESG, percepatan transparansi rantai pasok, dan diplomasi ekonomi hijau. Selain itu, momentum tarif membuka peluang reposisi, tetapi keberhasilan ditentukan oleh kecepatan respons dan eksekusi.
Untuk analisis lengkap dan peta rekomendasi, akses Sustainability Insight Report (SIR) “What If Trump’s Tariffs Return and How Ready is Indonesia to Become an ESG-Driven and Resilient Supply Chain Hub?”, secara gratis di sini report.olahkarsa.com