Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin menempati posisi strategis dalam mendorong strategi ESG yang lebih efektif. Dengan kemampuan mengolah data berskala besar, melakukan analisis prediktif, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti, AI berperan sebagai akselerator bagi penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) yang lebih efektif, adaptif, dan terukur.
Seiring waktu, konsep keberlanjutan telah berevolusi. Berawal dari fokus semata pada konservasi lingkungan menjadi paradigma yang menghubungkan dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi secara terpadu.
Di tengah meningkatnya kompleksitas sistem global, AI hadir untuk menjembatani kebutuhan akan efisiensi operasional dengan tanggung jawab keberlanjutan. Teknologi ini memungkinkan organisasi mengidentifikasi risiko, peluang, dan dampak keberlanjutan secara lebih cepat dan presisi dibandingkan pendekatan konvensional.
Baca juga: EUDR dan Tekanan Baru terhadap Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia
Penerapan AI dalam konteks keberlanjutan kini meluas ke berbagai sektor strategis. Melalui pemantauan real-time dan model prediktif, AI mampu mengungkap pola, inefisiensi, serta potensi perbaikan yang sebelumnya sulit terdeteksi.
Namun demikian, adopsi AI juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait konsumsi energi dan jejak karbon dari komputasi intensif. Oleh karena itu, keseimbangan antara inovasi teknologi dan tanggung jawab lingkungan menjadi prinsip kunci dalam pengembangan AI yang berkelanjutan.
AI, Sustainability Report, dan Daya Saing Bisnis Indonesia
Dalam ranah sustainability report, AI membawa perubahan fundamental. Proses pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data ESG kini dapat dilakukan secara otomatis dan lebih akurat. Sehingga meningkatkan kredibilitas, konsistensi, dan transparansi laporan korporasi.
Transformasi digital tersebut menandai pergeseran penting, yakni sustainability report tidak lagi sekadar kewajiban kepatuhan. Adanya perubahan menjadi alat strategis, untuk membangun kepercayaan pemangku kepentingan dan menciptakan nilai jangka panjang.
Tren global menunjukkan bahwa 98% perusahaan besar telah mengungkapkan sebagian informasi keberlanjutan mereka. Kemudian, lebih dari 70% telah memperoleh assurance eksternal atas laporan tersebut.
Di Indonesia, arah serupa terlihat melalui berbagai kebijakan, seperti POJK No. 51/2017, Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan OJK 2021–2025, serta penerapan standar PSPK yang mengadopsi IFRS S1 dan S2. Perkembangan ini menandai fase baru integrasi antara data keuangan dan non-keuangan, yang semakin menentukan daya saing bisnis nasional.
Baca juga: ESG sebagai Fondasi Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Arah perkembangan AI dalam keberlanjutan juga sejalan dengan visi Society 5.0, yakni masyarakat super-pintar yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi teknologi. Integrasi AI dalam sistem kota cerdas, energi, transportasi, dan pengelolaan lingkungan berpotensi menjadi katalis penting dalam pencapaian Net Zero Emission 2060.
Namun, kemajuan tersebut hanya dapat terwujud melalui kolaborasi lintas sektor, tata kelola data yang etis, serta peningkatan literasi digital di seluruh lapisan masyarakat.
AI dan Masa Depan Transformasi Keberlanjutan
Pemanfaatan kecerdasan buatan membuka peluang besar untuk mempercepat transisi menuju ekonomi dan bisnis yang berkelanjutan. Tantangannya kini bukan lagi soal ketersediaan teknologi, melainkan bagaimana AI diintegrasikan secara bertanggung jawab untuk mendukung tujuan ESG dan pembangunan jangka panjang.
Untuk memahami lebih dalam peran AI dalam transformasi keberlanjutan serta implikasinya bagi dunia usaha dan kebijakan, akses Sustainability Insight Report (SIR) edisi ke-5 dengan judul:
“AI dan Sustainability: Kecerdasan Buatan sebagai Akselerator Transformasi Keberlanjutan”
Unduh report lengkapnya secara GRATIS di report.olahkarsa.com