Integrasi ESG semakin sering dibahas sebagai “kepatuhan”. Padahal, insight utama dari integrasi ESG adalah menunjukkan hal yang lebih mendasar. ESG adalah strategi ketahanan ekonomi, sebab risiko iklim dan sosial punya dampak langsung pada produktivitas, stabilitas sistem keuangan, dan kualitas pertumbuhan.
Artikel ini akan membedah hubungan ekonomi–emisi secara konseptual dan empiris, lalu menjelaskan bagaimana PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk merespons melalui tiga jalur, yakni sustainable growth, social impact, dan responsible leadership.
Mengapa Pertumbuhan Ekonomi Tidak Otomatis Memperbaiki Lingkungan
Environmental Kuznets Curve Tidak Selalu Terjadi di Dunia Nyata
Secara teori, Environmental Kuznets Curve (EKC) menyebutkan bahwa saat ekonomi tumbuh, kualitas lingkungan dapat membaik karena teknologi lebih ramah lingkungan. Namun, nyatanya realitas bisa berbeda, terutama bila ekonomi berjalan business as usual.
Di sisi risiko, Swiss Re Institute memperlihatkan potensi dampak ekonomi perubahan iklim yang dapat menggerus PDB secara signifikan bersama negara-negara di ASIA, khususnya ASEAN yang termasuk rentan.
Bukti Data Global Menunjukkan Emisi dan Pertumbuhan Saling Memengaruhi
Analisis global (1990–2019) yang memperlihatkan hubungan pertumbuhan ekonomi dan emisi CO₂ tidak sesederhana, seperti “tumbuh lalu membaik”. Dengan regresi OLS, hubungan jangka panjang dapat membentuk pola yang mendorong emisi, apabila tetap BAU.
Lebih lanjut, uji kausalitas dan VAR menunjukkan dinamika dua arah, yakni emisi dapat mendorong aktivitas ekonomi, namun kemudian menekan pertumbuhan dalam jangka panjang. Kesimpulannya adalah membiarkan BAU berarti menumpuk risiko ekonomi masa depan.
Risiko iklim Berarti Risiko Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pada data Indonesia, menyoroti korelasi historis yang negatif antara korelasi emisi CO₂ dan pertumbuhan ekonomi. Melalui regresi Newey–West, koefisien elastisitas pertumbuhan terhadap emisi CO₂ bernilai sekitar -0,19. Artinya, kenaikan emisi 1% berasosiasi dengan penurunan pertumbuhan sekitar 0,19% (ceteris paribus).
Implikasinya bukan hanya makro, melainkan pertumbuhan dapat tertekan oleh risiko iklim, risiko kredit dan daya bayar masyarakat yang bisa ikut terdampak, sehingga manajemen risiko iklim menjadi agenda inti sektor perbankan.
Pertumbuhan Berkelanjutan Menuntut Isu Iklim dan Sosial Ditangani Bersama
Sustainable development bukanlah, hanya tentang lingkungan saja. Isu sosial, seperti kemiskinan ekstrem, kelaparan, kesenjangan gender, dan akses air bersih dapat memengaruhi inklusivitas serta ketahanan ekonomi. Secara global, data PBB juga menegaskan besarnya skala tantangan dalam kemiskinan ekstrem.
Di level global, meningkatnya instrumen sustainable finance menunjukkan bahwa pasar menganggap ESG sebagai faktor material. Terlihat dari tren pertumbuhan penerbitan sustainable bonds dan juga aset sustainable equity funds.
Respons BRI melalui ESG sebagai Ketahanan Bisnis
1. Driving Resilient Business through Sustainable Growth
PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk atau BRI menempatkan pembiayaan hijau dan UMKM sebagai peluang pertumbuhan yang sekaligus memperkuat resiliensi. Hal ini menyoroti kebutuhan pendanaan transisi Indonesia yang besar, sehingga bank memiliki peran strategis dalam menutup gap pembiayaan.
Di level portofolio, adanya pertumbuhan porsi kredit berkelanjutan yang signifikan, hal ini termasuk komposisi green loan dan social loan, serta inisiatif climate risk stress testing yang selaras dengan arah kebijakan OJK.
2. Building Customer Stickiness through Social Impact
BRI membangun kedalaman relasi nasabah melalui inklusi dan literasi, layanan multikanal, pemberdayaan komunitas dan UMKM. Hal ini menampilkan fakta, bahwa adanya gap antara indeks inklusi dan literasi, yang menjadi ruang kerja besar bagi ekosistem keuangan. Rujukan OJK–BPS pada SNLIK 2025 menguatkan konteks ini, termasuk angka indeks literasi dan inklusi terbaru.
3. Gaining Stakeholders’ Trust through Responsible Leadership
Trust dapat dibangun lewat integritas, tata kelola, dan penguatan people management. Salah satu titik tekannya adalah kebutuhan kanal pelaporan yang aman dan kredibel (whistleblowing) untuk mencegah fraud dan pelanggaran etika sejak dini. Dalam konteks ekspektasi pasar, materi juga menampilkan sinyal kuat bahwa investor semakin memprioritaskan informasi ESG.
Insight Integrasi ESG yang Dipaparkan BRI
Pemaparan ini disampaikan oleh Anton Hendranata, Chief Economist of PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dalam acara Green Economic Outlook 2026 bertema Strengthening Economic Resilience through ESG Integration di Jakarta (11/12).
Harapannya, melalui rangkaian insight yang telah dipaparkan dapat menggeser cara pandang kita bahwa ESG bukan “biaya kepatuhan”, melainkan arsitektur ketahanan. Ketika risiko iklim, gap sosial, dan tuntutan tata kelola ditangani secara terintegrasi, ekonomi dapat berpeluang tumbuh lebih stabil, lebih inklusif, dan lebih tahan guncangan.